Feromon Exi (NEW PRODUCT)


Cara Baru Membasmi Ulat Bawang (Spodoptera exigua)

Hama ulat bawang (Spodoptera sp.) hingga saat ini masih menjadi momok bagi petani Bawang Merah di Indonesia. Tidaklah heran jika petani bersedia menyediakan biaya yang cukup besar untuk mengendalikan dan membasminya. Meski serangga ulat bawang dewasa hanya kawin satu kali selama hidupnya, namun serangga ulat bawang betina mampu menghasilkan telur 500 -1.000 butir/ ekor dari setiap perkawinannya. Dapat dibayangkan tanpa pengendalian yang tepat, peningkatan populasi akan berlipat dengan cepat.

Melalui proses penelitian dan ujicoba lapang yang panjang, para peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen) telah berhasil mengembangkan Feromon-Exi, berupa terobosan teknologi yang mudah dan murah dalam mengendalikan ulat bawang (Spodoptera exigua). Kini Feromon-Exi telah dilisensikan kepada CV Nusagri, sebuah perusahaan swasta nasional, untuk diproduksi secara massal.

Apa itu Feromon-Exi ?

Feromon, berasal dari bahasa Yunaniphero’ yang artinya ‘pembawa’ dan ‘mone’ (sensasi). Feromon merupakan senyawa yang diproduksi dan dilepas oleh serangga untuk memikat serangga lawan jenisnya karena adanya tanggapan fisiologi tertentu. Zat ini berasal dari kelenjar endokrin, berbeda dengan hormon, feromon menyebar ke luar tubuh dan hanya dapat dikenali oleh individu lain yang sejenis (satu spesies). Feromon pertama ditemukan di Jerman, oleh Adolph Butenandt, ilmuwan yang juga menemukan hormon seks pada manusia yaitu estrogen, progesteron dan testosteron. Penemu zat feromon pada hewan (serangga) adalah Jean-Henri Fabre pada tahun 1870, ketika meneliti ngengat ‘Great peacockbetina.

Dengan mengendus feromon, serangga jantan dapat menemukan keberadaan serangga betina dari jarak berkilo-kilometer. Melalui serangkaian penelitian dan ujicoba yang panjang, ditemukan sintesa Feromon-Exi berupa atraktan feromon seks yang khusus untuk mengendalikan ulat bawang (Spodoptera exigua).

Untuk memudahkan penggunaan, Feromon-Exi diresapkan pada karet berbentuk silinder, dengan ukuran panjang dan diameter kurang dari 1 cm.

Spodoptera exigua

Kingdom       : Animalia

Phylum          : Arthropoda

Class                : Insecta

Order              : Lepidoptera

Family            : Noctuidae

Subfamily     : Amphipyrinae

Genus             : Spodoptera

Spesies           : Spodoptera exigua

merupakan hama polifag yang menyerang hampir semua jenis tanaman sayuran dan tanaman hias di seluruh dunia. Di Indonesia hama ini lebih dikenal sebagai ulat bawang atau onion caterpillar.

Imago S. exigua berupa ngengat berwarna putih gelap atau kelabu dengan titik kuning pada sayap depan. Telurnya berwarna hijau atau kuning terang diletakkan pada malam hari pada daun bawah dalam bentuk kluster, yang ditutupi bulu-bulu halus berwarna putih atau putih kekuning-kuningan. Telur umumnya menetas dalam waktu 2-5 hari. Instar pertama dan kedua umumnya makan secara berkelompok (gregariously) pada bagian dalam daun muda dengan membentuk gejala khas berupa membran putih transparan atau lubang masuk (windowing).

Larva berbentuk bulat panjang dengan ukuran instar akhir antara 2.5-3.0 cm, memiliki variasi warna yang sangat banyak (polimorfisme) dari hijau sampai hitam pekat, ciri khas berupa garis memanjang (longitudinal stripes). Pupanya berwarna coklat terang atau coklat gelap berada di dalam tanah di bawah tanaman yang terserang. Satu ekor imago betina mampu meletakkan telur rata-rata 500 hingga 1000 butir. Sedangkan siklus hidup satu generasi dari telur sampai imago bertelur lagi sekitar 23 hari.

Murah dan Ramah Lingkungan

Dibandingkan dengan cara pengendalian hama ulat bawang konvensional, penggunaan Feromon-Exi memiliki beberapa kelebihan yaitu :

  • Ramah lingkungan, tidak beracun dan tidak meninggalkan residu
  • Bersifat selektif untuk spesies hama tertentu saja, tdaik membunuh musuh alami
  • Menekan populasi hama secara nyata
  • Lebih murah
  • Mudah diterapkan

Pengendalian hama konvensional umumnya mahal dan berpotensi mencemari lingkungan. Biasanya dalam satu musim tanam dilakukan penyemprotan insektisida hingga 12 kali (untuk mengendalikan ulat bawang) dan 3 kali (untuk mengendalikan Grandong). Berarti penyemprotan insektisida dilakukan setiap 2-3 hari sekali, dengan biaya mencapai Rp 6 juta per hektar per musim. Petani besar menambah lagi dengan penggunaan perangkap lampu yang membutuhkan biaya sekitar Rp 1-2 juta per hektar per musim tanam.

Feromon-Exi, dalam semalam mampu menangkap tidak kurang dari 200-an serangga jantan dalam setiap perangkap. Berarti selama 50 hari (satu musim tanam bawang), dengan menggunakan 12 perangkap per hektar, dapat ditangkap hingga ribuan ekor serangga ulat bawang. Penggunaan Feromon-Exi, mengurangi penyemprotan insektisida cukup dilakukan 3 kali saja (untuk mengendalikan ulat bawang) dan 3 kali (untuk mengendalikan Grandong), dan tidak lagi diperlukan perangkap lampu. Biaya pengendalian hama dapat dihemat Rp 4 juta per hektar per musim tanam.

Penggunaan Feromon-Exi

Menggunakan alat bantu yaitu perangkap  stoples plastik yang diberi lubang jendela. Di dalam stoples, digantungkan karet atraktan Feromon-Exi dan diberikan air dibagian dasar stoples. Kemudian perangkap stoples ditempatkan pada areal tanaman bawang merah, berjarak 15 m, pada ketinggian 40 cm di atas permukaan tanah.

Serangga Spodoptera exigua jantan akan terpikat mendatangi perangkap dan terperangkap di air di dasar stoples. Petani dapat memeriksa serangga Spodoptera exigua yang tertangkap dengan mudah setiap saat dan mengganti air di dalam stoples.

Perangkap Feromon-Exi untuk pemasangan individu diperlukan sekitar 20 perangkap per hektar. Jika pemasangan secara bersama-sama pada satu hamparan, jumlah perangkap Feromon-Exi cukup 12 perangkap per hektar.

Ujicoba lapang Feromon-Exi

BB-Biogen telah sukses melakukan ujicoba lapang di beberapa sentra tanaman Bawang Merah di tanah air. Lokasi ujicoba tersebut adalah :

  • Kabupaten Cirebon, Jawa Barat
  • Kabupaten Brebes, Jawa Tengah
  • Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur
  • Propinsi Bali
  • Kabupaten Bima, NTB
  • Samosir, Sumatera Utara

Saat ini Produk Feromon-Exi sudah diproduksi komersial oleh CV NUSAGRI dan sudah memperoleh Izin Percobaan melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 128/Kpts/SR.140/1/2012, tertanggal 17 Januari 2012

Comments & Responses

Leave a Reply